I Need You Cause I love You

Di tepi sebuah danau yang sunyi, matahari mulai terbenam. Matahari seolah melayang di atas permukaan air. Samar, terlihat siluet angsa bermain-main di tengah danau. Di bawah pohon, nampak sepasang manusia sedang duduk berdua. Mereka duduk rapat. Sang wanita duduk bersandar di pelukan sang pria. Jelas bahwa kedua orang ini saling jatuh cinta.

Sadar tidak mempunyai waktu lama, sang kakek mengusap air mata yang terjatuh di pipi nenek. Perlahan ia mengusap rambut wanita yang sudah memutih seluruhnya itu. Lalu ia mengecup lembut pipinya yang sudah kempot. Samar-samar di tengah bayang matahari terbenam, ia bisa melihat betapa kanker mulai menggerogoti kesehatan wanita yang dikasihinya. Betapa sang nenek sebenarnya menggigil kedinginan.

Tulang-tulangnya mulai nampak jelas. Bahkan kulit yang tadinya mulus semakin keriput. Tulang pipinya pun menunjukkan sisa waktu yang hanya tinggal sedikit. Terlihat samar sisa kecantikan yang dulu pernah ada. Kecantikan yang dulu pernah membuat jantung sang kakek berdegup setiap kali melihatnya.

Namun entah mengapa ada ketenangan di sana. Ada desir hangatnya cinta di tengah semilir lembut angin yang bertiup.

Tidak ada kata-kata di situ. Sang nenek memandang jauh ke arah matahari yang terbenam, tidak sadar bahwa setetes air mata jatuh di pipi sang kakek. Air mata perpisahan. Inilah hari terakhir mereka bersama. Sang kakek harus menghadapi kenyataan hidup sendiri.

Di tengah usianya yang renta, dengan tulang yang selalu ngilu setiap malam, dia harus hidup sendiri. Dia harus memasak air sendiri, memasak makanan sendiri sepanjang sisa hidupnya. Tidak ada lagi wanita yang dengan penuh kasih menggosokkan punggungnya di saat dia kedinginan. Tidak ada lagi yang dengan senyum lembutnya mengganti seprai di tengah malam, karena ompolnya.

Tidak ada yang menemaninya nonton TV dan makan malam. Tidak ada yang mengecup lembut keningnya di malam hari sebelum dia tidur. Dia harus belajar menghadapi malam-malam dingin itu sendirian.

Perlahan dia menarik nafas, lalu menutup matanya sejenak. Merasakan udara hangat yang mengalir masuk ke dada. Tidak sadar, setetes air mata lagi turun membasahi pipinya.

Perlahan dia membuka matanya dan melihat ke wanita yang dicintainya seumur hidup. Sadar bahwa inilah saat terakhir dia akan melihat wanita yang dikasihinya itu.

Lalu dia berkata lembut, “Istriku, dulu aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu. Sekarang aku sadar bahwa aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.”

Namun kini aku ikhlas. Bila boleh memilih sekali lagi di kehidupan berikutnya, aku tetap akan menemanimu sampai matahari menyambut tubuhmu. Sampai rumput membalut dirimu. Aku tidak akan membiarkan diriku pergi lebih dulu.

Aku tidak ingin melihatmu sendiri. Aku tidak ingin melihatmu berdiri menangis di pusaraku. Aku mencintaimu terlalu besar untuk melihatmu menderita.

Aku mencintaimu…”

Sang nenek tersenyum untuk terakhir kalinya dan menutup matanya di pelukan pria yang selalu dikasihinya itu.

When were young we said, “I love you because I need you”. Only later we come to realize that “I need you because I love you.”

 

Anda boleh menggunakan artikel ini di newsletter, website atau publikasi, dengan syarat tetap melampirkan kalimat lengkap di bawah dengan link aktif ke website:

Copyright, Hendrik Ronald. Digunakan dengan izin. Hendrik Ronald adalah Trainer dan Coach Service Excellence. Untuk mendapatkan pelatihan dan artikel lainnya, silakan kunjungi www.HendrikRonald.com