Terbaik Di Dunia?

Terbaik Di Dunia?

Angkasa Hotel

Waktu itu saya sedang berada di garbarata mau naik ke pesawat. Biasanya saya suka memilih naik terakhir ke pesawat. Saat para penumpang sudah pada duduk semua dan tidak perlu antri lagi, barulah saya masuk. Sehingga saya bisa lebih nyaman tanpa desak-desakan. Nah, kegiatan wajib saya saat menunggu di garbarata adalah membaca di Kindle kesayangan.

Saya langsung tertawa saat membaca buku Business Coaching dari Brad Sugars. Kurang lebih di situ tertulis, “Ada dua cara untuk menaikkan profit. Yang pertama adalah meningkatkan pendapatan. Yang kedua adalah mengurangi pengeluaran. Cara yang pertama adalah cara yang lebih bagus. Namun cara yang kedua adalah yang lebih sering ditempuh oleh pengusaha.”

Saya langsung tertawa. Suatu ironi yang tepat sekali. Bahkan saya terpikir ironi yang lebih pahit lagi, bukan hanya mengurangi pengeluaran, para pengusaha sering kali mengurangi pemasukan juga!

Di kota saya, ada promo hotel yang kurang lebih bunyinya seperti ini, “Menginap 2 malam, bayar 1 malam.” Sungguh saya trenyuh. Ini akan membuat hotel tersebut semakin tidak mampu bersaing.

Saya sendiri sampai 2 tahun yang lalu masih aktif mengurus hotel. Sebuah hotel bintang 1, yang bahkan tembok samping dan belakangnya tidak ada! Saat hotel bintang 1 bertembok lainnya menjual kamar dengan harga 100 ribuan, saya malah menjual kamar sampai Rp.575.000 dan masih laku!

Di saat malam tahun baru, harga kamar saya bisa naik sampai Rp.800.000! Yang lebih menariknya, semua kamar saya sudah SOLD OUT sebelum jam 4 sore. Sehingga praktis staff yang masuk sore dan malam hanya menolak tamu saja. Kamar kami termasuk yang paling cepat habis di antara hotel lainnya! Di saat-saat itu kami bisa menolak lebih dari 200 tamu.

Bagaimana mungkin sebuah hotel bintang 1 yang sudah berumur 25 tahun; karpetnya sudah menghitam; cat pegangan tangganya sudah terkelupas; diremehkan oleh saingan; tembok samping dan belakangnya tidak ada bisa melakukan semua itu?

Kami berhasil lepas dari perang harga dan setiap tahun occupancy malah meningkat. Bagaimana mungkin?

Begini, berhentilah memandang harga sebagai harga. Pandanglah harga sebagai value. Value adalah nilai yang dirasakan oleh customer saat dia membayarkan. Orang akan membayar lebih tinggi bila memang value-nya sesuai.

Nah, ‘sihir’ apa yang sebenarnya saya lakukan di hotel itu?

Kita nantikan di sambungannya yah!

Salam Dahsyat!

 

Anda boleh menggunakan artikel ini di newsletter, website atau publikasi, dengan syarat tetap melampirkan kalimat lengkap di bawah dengan link aktif ke website:

Copyright, Hendrik Ronald. Digunakan dengan izin. Hendrik Ronald adalah Trainer dan Coach Service Excellence. Untuk mendapatkan pelatihan dan artikel lainnya, silakan kunjungi www.HendrikRonald.com